Jun 11
9
MIS ALUE MEUTUAH
Bangunan Mis Alue Meutuah yang sangat memprihatinkan dan mengundang simpati bagi siapa yang melihatnya Pengajuan Pembanguan sudah Berulangkali diajukan oleh Pihak Sekolah Ke Instansi Terkait, tapi pengajuan tinggal pengajuan tanpa ada realisasinya.
Keinginan dan tekad dewan guru untuk mencerdaskan kehidupan tidak pernah berhenti menyala, walaupun kondisi sekolah sudah tidak layak dan ruang kelas yang di dindingi oleh anyaman rotan akan tetapi keinginan anak untuk belajar tidak terbendungkan.
Dengan Fasilitas yang jauh dari Cukup tidak Menyurut minat Belajar dari Murid. Tak jarang jika Musim Hujan tiba mereka harus Terima kenyataan dapat Kiriman berupa Air Hujan yang menetes dari atap yang bocor. P2DTK hadir di Kabupaten Aceh Selatan dapat Menjawab Permasalahan Kabupaten, Salah satu diantaranya yaitu Pembangunan Mis Alue Meutuah. Untuk Siklus II P2DTK membangun Ruang Belajar Baru untuk 2 Lokal, dan Siklus III P2DTK membantu kebutuhan akan ruang kelas.
Dengan Fasilitas yang jauh dari Cukup tidak Menyurut minat Belajar dari Murid. Tak jarang jika Musim Hujan tiba mereka harus Terima kenyataan dapat Kiriman berupa Air Hujan yang menetes dari atap yang bocor. P2DTK hadir di Kabupaten Aceh Selatan dapat Menjawab Permasalahan Kabupaten, Salah satu diantaranya yaitu Pembangunan Mis Alue Meutuah. Untuk Siklus II P2DTK membangun Ruang Belajar Baru untuk 2 Lokal, dan Siklus III P2DTK membantu
kebutuhan akan ruang kelas.
PERPUSTAKAAN SEKOLAH DASAR
DI ILENG BOLANG DI FLORES TIMUR
Kebutuhan akan media belajar dan tempat siswa mendapat pengetahuan yang mudah adalah melalui perpustakaan yang dapat memberikan solusi akan ilmu pengetahuan.
Keterbatasan dana yang tersedia dan lokasi yang cukup jauh ke ibukota kabupaten telah membuat siswa sulit mendapatkan perpustakaan sehingga kesulitan akan menambah penetahuan tersebut, masyarakat desa amowolo melakukan musyawarah desa mengusulkan kegiatan tersebut pada program.
Jun 11
9
Rekapitulasi jumlah kegiatan (10 provinsi) untuk Sub Projek BLM Kabupaten dan Sub Projek BLM Kecamatan pada siklus 3 (2010) berdasarkan presentasi atas realisasi kegiatan, perioda update per tanggal 15 mei 2011, adalah sebagai berikut :
Sumber data : MIS NMC 15 Mei 2011
“Bu TPKM …. bangun Posyandu jo …. bisa ko ? Masa harus di bawah pohon terus?”, tanya seorang ibu kepada TPKM pada saat Pelaksanaan Musyawarah Khusus Perempuan di desa.Wailebe Kecamatan Wotan Ulumado – Kab Flores Timur. Itulah gambaran pengetahuan masyarakat yang dikategorikan sebagai daerah tertinggal. Dalam benak mereka dimana pembangunan adalah sesuatu yang dibiayai yang terlihat jelas oleh mata (berbentuk pembangunan fisik). Namun, di luar sana masih banyak permasalahan kesehatan yang harus dilakukan untuk mencapai derajat kesehatan yang lebih baik. Di Kabupaten Flores Timur khususnya banyak sekali masalah kesehatan yang harus dihadapi yang terkadang tidak dipandang secara jeli oleh masyarakat .
Sebagai contoh, masih banyak kejadian kematian ibu akibat persalinan dan kematian bayi/balita akibat kekurangan gizi dan juga pertolongan persalinan yang tidak semestinya.
Gedung Posyandu yang dibagun dari dana P2DTK BLM Kec DIPA 2010 dengan besaran biaya dari P2DTK Rp. 65.222.359 dan dana swadaya masyarakat Rp. 12.180.175.- dalam pelaksanaan dikerjakan sendiri oleh masyarakat setempat dalam waktu 60 Hari kalender .
Lalu sempat dilontarkan oleh seorang TPKM pada saat forum Musyawarah serah terima Desa , “Apakah dengan dibangunkan Posyandu masalah kematian ibu dan anak serta masalah malaria di desa kita sudah bisa diatasi ?” Nah..saatnya sekarang yang harus kita pikirkan bersama dalam berbagai macam masalah khususnya di bidang kesehatan …yang ada diwilayah desa kita ini..!
Seiring dengan luasnya wilayah Kabupaten Flores Timur dan keadaan geografis yang masih banyak sulit dijangkau oleh alat transportasi tidak diimbangi dengan tenaga kesehatan yang ada terutama tenaga Bidan. Masih banyak desa-desa yang belum ada tenaga Bidan sehingga masih banyak pula pertolongan persalinan yang dilakukan oleh Dukun Beranak……. Alhasil sukses dan tertolong dengan baik ….terima kasih P2DTK , gedung ini akan kami jaga sebaik baiknya dan apabila rusak kami sendiri yang perbaiki karena ini merupakan salah satu kebutuhan kami khususnya kaum ibu-ibu dan apalagi kami punya desa sudah ada tim pemelihara yang kami pilih sendiri sebagai pengurus dalam mengelola gedung ini….!!!
Oleh : Koordinator DMC Kab.Flores Timur
Ismail Imran Ngaba
Email – mailflotim@yahoo.co.id
Tahun 2007 tepanya di bulan Agustus P2DTK Masuk di kabupaten Flores Timur dengan profil lokasi wilayah administrasi kabupaten terdiri dari 3 (tiga) pulau; 3 (tiga) daratan pulau yaitu: Pulau Flores, Adonara dan Solor.Pulau Flores terdapat 8 (delapan) kecamatan yaitu: Kec.Tanjung Bunga, Kec.Lewolema, Kec.Ile Mandiri, Kec.Larantuka, Kec.Titehena, Kec.Demon Pagong, Kec.Ile Bura dan Kec.Wulanggitang. Pulau Adonara terdiri dari 8 (delapan) kecamatan yaitu: Kec.Adonara Barat, Kec.Adonara Tengah, Kec.Wotan Ulumado, Kec.Adonara Timur, Kec.Ile Boleng, Kec.Witihama, Kec.Kelubagolit, dan Kec.Adonara. Pulau Solor terdiri dari 3 (tiga) kecamatan yaitu: Kec.Solor Timur, Kec.Solor Barat dan Kec.Solor Selatan.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Daerah Tertinggal dan Khusus adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan – kebijakan sebagai dasar dan acuan pelaksanaan program – program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Untuk mengefektifkan upaya penaggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh berbagai pihak, penetapan kelompok sasaran masyarakat miskin dan wilayah tertinggal serta pelaksanaan berbagai program penanggulangan kemiskinan perlu dilakukan dengan lebih terarah.
Sebelum dapat bantuan dana dari P2DTK , Desa Redontena kebutuhan akan Sarana dan Prasarana Air bersih sangat sulit di dapat karena mata air sangat jauh dari pemukiman penduduk kurang lebih 6.750 m . Pasca bencana alam kurang lebih 2 tahun sebelum di bangun air bersih dari bantuan Program P2DTK masyarakat mendapatkan air bersih dengan cara membeli dari rental mobil tangki air dengan harga dalam takaran ukuran jirgen 5 liter Rp.2000 / jirgen , 20 liter Rp. 10.000./jirgen , drum Rp.50.000 / drum hal dilakukan demi untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih seperti untuk mandi, cuci , masak dll . yang sangat memprihatinkan dengan keterbatasan air bersih anak anak kesekolah bahkan tidak mandi , sering kenanya wabah penyakit diare , malaria kalau sudah seperti ini banyak biaya yang harus keluar .
Begitu Program P2DTK Masuk di Desa Redontena Kecamatan Kelubagolit dengan jumlah penduduk 2.758 jiwa pada Bulan Agustus Tahun 2007 pada saat penggalian gagasan di tingkat Dusun warga dari 3 ( tiga Dusun ) mengusulkan Lanjutan pemasangan jaringan Pipa Air minum bersih sepanjang 6.000 meter, usulan ini merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dilaksanakan , bahwa sebelumnya masyarakat sudah terbentuk panitia kepengurusan Air bersih dan telah lakukan secara berswadaya dengan membeli pipa ukuran diameter 2 dim dan terpasang sepanjang 750 m , namun adanya keterbatasan dana swadaya maka kegiatan pemasangan jaingan pipa air bersih untuk sementara dihentikan sambil mencari sumber dana dari pihak pendonor untuk melanjutkannya .
Kebutuhan Masyarakat Desa Redontena kecamatan Kelubagolit akan Air Bersih Terjawab yakni didanai dari dana P2DTK BLM Kab DIPA L 2009 I ( Siklus 1 ) setelah masuk tahapan proses musyawarah kabupaten perangkingan menempatkan posisi rangking II dengan besaran dana hasil perhitungan Tim Desain dan Rab kab sebesar Rp. 679.000.000.- ( Bahan , Alat dan Hok pekerja ) dan swadaya masyarakat Rp.61.539.500.- P2DTK membiayai untuk Jaringan Pipa Air bersih dari mata air sampai masuk ke bak penampung , sedangkan Bak Penampung dan Jaringan distribusi dalam lingkungan di biaayai dari dana APBD II sehingga hal ini telah menunjukan sinergi dalam pembiayaan dalam menjawab kebutuhan masyarakat .
Dalam pelaksanaannya hasil kesepakatan forum kab pendanaan yakni pengadaan Pipa dan Assecorisnya di lakukan oleh pihak ke III , Pemasangan dan pembenahan pipa dilakukan oleh masyarakat yang di koordinir langsung oleh ketua panitia Air bersih dalam tempo waktu 30 hari .
Tingkat parisipasi masyarakat dalam pengerjaan pemasangan dan pembenahan jaringan pipa dilaksanakan masyarakat secara gotong royong ( laki-laki – perempuan ) yang di koordinir langsung dari ketua panitia Air , serta tak mengabaikan dalam pengawasan langsung /monitoring dari pihak kab , Camat , Kades sebagai penanggung jawab program di tingkat kecamatan dan Desa juga masyarakat sendiri .
Terima kasih P2DTK , sekarang kami tidak susah air bersih lagi , kebutuhan air bersih semakin dekat , anak – anak kami pergi kesekolah sekarang sudah bisa mandi , kami tidak pakai beli lagi kaya dulu , air yang ada kami bisa manfaatkan dengan menanam sayur dll sebagai kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga kami , penyakit malaria sudah berkurang, kami sudah membangun KM/WC dirumah pada umumnya dengan adanya Air bersih untuk permasalahan di Desa Redontena dapat terjawab semuanya . Pemanfaatan air bersih yang ada dapat di manfaatkan juga oleh masyarakat luar yang tidak secara langsung dalam pemanfaatan .
Begitu Air bersih masuk di Desa Redontena sebagai tanda rasa syukur kepada Leluhur Lewotana ( Mengucapkan rasa syukur kepada para nenek moyang penguasa wilayah adat yang telah mendahului ) serta ucapan terima kasih kepada pemilik lokasi mata air yang telah dengan rela memberikan mata air untuk warga desa kami , sebelum diresmikan oleh
Bupati Timur terlebih dahulu dilakukan upacara adat yang dihadiri secara bersama sama dari pemilik Mata Air , Bupati Flores Timur dan jajarannya , Para petua adat serta Tokoh masyarakat Desa Redontena . sebelum air di manfaatkan secara umum / resmi oleh warga maka secara adat adanya tanda penyerahan air oleh Pemilik lokasi mata air yakni pengambilan air yg ada di kran pipa menggunakan bakul kecil terbuat dari tanah lalu menyerahkan kepada salah satu mama yang menerima lalu ditaruh diatas kepala anak gadis ( junjung diatas kepala ) yang berpakaian adat yg disaksikan oleh petua adat , Bupati Flores Timur serta para undangan lainya , langkah ini menandakan bahwa air telah diserahkan secara resmi oleh pemilik lokasi mata air kepada warga Desa Redontena untuk dapat mulai dimanfaatakan sesuai dengan kebutuhan dalam sehari-hari .
Sebagai rasa wujud tanggung jawab akan air bersih yang ada agar dapat berlanjut yakni desa kami telah membentuk suatu badan Tim pemelihara / pantia kepengurusan air bersih yang ditetapkan dalan SK Desa dan telah dituangkan dalam Perda Desa karena Air bersih merupakan sebagai potensi / Aset Desa dengan iuran per kk/bulan Rp. 25,000 dengan pemanfataan dana iuran yang direncanakan akan berlaku dengan sistim meteran air . sebagai penguru utama adalah pengurus atau pengelola air bersih dan anggota adalah seluruh warga masyarakat desa Redontena . dalam susunan kepengurusan Panitia Air diambil Camat , Kades tetap dalam tugas dan fungsi sebagai penanggung jawab umum dalam wilayah .
Oleh ; Ismail Imran Ngaba – Koord.Tim NTT-1
Email- mailflotim@yahoo.co.id
Kecamatan Negeri Besar, Kabupaten Way Kanan, Lampung terkesan merupakan daerah gersang, tandus, dan sepi. Karena sebagian besar wilayahnya terdiri dari perbukitan yang berkerikil merah. Ketika dilakukan proses penggalian gagasan dan penetapan kebutuhan yang dilakukan pada masing-masing kampung sebagian besar keluhan warga adalah sulitnya mendapat air bersih. Sehingga wajar jika kemudian banyak warga yang mengarahkan usulan kegiatan P2DTK dalam bentuk pembuatan sumur bor. Salah satunya adalah yang diusulkan warga Kampung Negara Jaya RK 6 yang akhirnya disetujui dalam perangkingan dan pendanaan, dilaksanakan dan saat ini dalam tahap pemeliharaan.
Pembuatan sumur bor di RK6 Kampung Negara Jaya memiliki progres yang baik dalam pelaksanaan pekerjaannya bahkan sampai tahap pemeliharaannya. Pengadaan air bersih yang dilakukanberupa pembuatan satu unit sumur bor dengan spesifikasi;
Nilai sub proyek Rp 32.197.000 berasal dari BLM kecamatan siklus II dan berlokasi di RK 6, Kampung Negara Jaya, Kecamatan Negri Besar, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung.
Penerima manffat sumur bor pada awalnya secara umum adalah seluruh masyarakat kampung Negara Jaya, Kecamatan Negeri Besar Kabupaten Way kanan sejumlah 170 KK atau sekitar 600 jiwa. Namun pemanfaat secara langsung hanya beberapa KK, terutama yang berada di sekeliling sumur tersebut. Pengambilan air dilakukan secara manual diangkut dengan ember atau jerigen.
Menjelang serah terima pekerjaan muncul ide untuk membangun sistem perpipaan sehingga air dapat mengalir hingga ke rumah-rumah. Ternyata masyarakat menyambut usulan tersbut dengan antusias sekali. Dengan berbagai persiapan, perencanaan, sistem pembayaran serta pembagian jatah air yang disepakati, perpipaan dilaksanakan bulan Juli 2009. Pada bulan Juli 2009 itu terpasang pipa sampai ke 30 rumah, sebulan kemudian bertambah menjadi 34 rumah dan di bulan September 39 rumah dan terakhir di bulan oktober jaringan sudah mencapai 41 rumah.
Masyarakat yang belum mendapat jaringan perpipaan, dapat mengambil air dengan cara membayar Rp. 250 per jerigen.
Fasilitator yang Andal
Adalah Mulyono atau sering dipanggil dengan Pak Mul yang merupakan pelaku yang paling berpengaruh dalam suksesnya sub project ini. Mulyono adalah Fasilitator Desa dalam program P2DTK ini. Dia juga seorang pendidik/guru di SDN 1 Negara Jaya sebagai guru kelas. Pak Mul inilah yang memfasilitasi warga dari mulai proses penggalian gagasan, penetapan usulan, sampai saat pelaksanaanya turut juga melakukan pengarahan dan pengawasan. Beliau juga yang menginisiasi mengumpulkan warga untuk melakukan musyawarah dalam memelihara sumur bor setelah pekerjaan selesai 100%. Padahal belum ada petunjuk teknis operasional pemeliharaan yang diberikan oleh program bahkan pelatihan tim pemelihara pun belum dilaksanakan.
Dibantu Fasilitator Kecamatan maka terlaksanalah musyawarah yang menjelaskan tentang pentingnya pemeliharaan dan tim pemelihara untuk menjaga keberlangsungan sub projek, sehingga tidak hanya menjadi sebuah monumen saja (selesai dibangun dimanfaatkan sebentar kemudian rusak dan terbengkalai). Musyawarah juga menyepakati pengukuhan tim pemelihara serta membuat kesepakatan aturan main teknis pemeliharaan sumur bor yang dituangkan dalam sebuah dokumen Surat Perjanjian Penggunaan Air Sumur Bor. Kembali bahwa hal itu karena ada peran yang sangat besar dari seorang Mulyono yang juga menikmati hari-harinya sebagai petani untuk nyawah atau meladang. Di sela-sela waktu luangnya Mulyono juga menyempatkan mengumpulkan pasir dari kali jika ada yang membutuhkannya.
Satu hal yang juga luar biasa adalah bahwa di antara amanah yang cukup banyak yang diembannya saat ini, beliau sedang memulai study untuk meraih gelar Sarjana di Universitas Terbuka melalui program beasiswa dari pemerintah.
Struktur tim pemelihara sumur bor sangat sederhana, hanya terdiri dari ketua Bapak Parman, Sekretaris Bapak Sandiyo, dan bendahara Bapak Surkemin tanpa ada bidang-bidang tugas di bawahnya. Hanya saja warga menyepakati menunjuk satu orang yaitu Bapak Surkemin (kebetulan bendahara) yang fokus untuk mengatur distribusi pengaliran air dan penarikan iuran. Bapak Surkemin ditunjuk dengan alasan beliau yang rumahnya berdekatan dengan lokasi sumur bor. Dengan insentif Rp 300.000, Pak Surkemi menjalankan tugasnya.
Penerima manfaat dari keberadaan sumur bor ini pada dasarnya adalah seluruh warga Negara Jaya, terutama warga RK 6 yang berjumlah 170 KK. Ada dua kelompok penerima manfaat sumur bor ini. Pertama pemanfaat langsung yaitu warga yang menyalurkan pipa air dari sumur bor langsung ke rumahnya. Pemanfaat langsung saat ini sudah mencapai 41 rumah, dan akan dibatasi sampai maksimal 45 rumah saja. Kedua pemanfaat tidak langsung yaitu warga yang tidak menyalurkan pipa air ke rumahnya. Pemanfaat tidak langsung menggunakan air dengan cara mengambil langsung melalui kran air yang ada di bawah tower air sumur bor menggunakan jerigen atau lainya sesuai kebutuhan warga.
Pengelompokkan ini bukan untuk membedakan warga dalam memanfaatkan air, tapi mengingat keterbatasan kapasitas dan kemampuan aliran air maka pembatasan jumlah penyalur langsung dilakukan. Warga berprinsip ‘daripada semua boleh menyalur air tapi air tidak mengalir, lebih baik dibatasi tapi semua bisa merasakan manfaatnya. Ada perlakuan yang berbeda terhadap dua kelompok ini, jika pemanfaat langsung diwajibkan memberikan iuran bulanan maka pemanfaat tidak langsung tidak dikenakan kewajiban tersebut.
Dengan adanya sumur bor ini masyarakat sangat terbantu. Pada saat sulit mendapatkan air bersih di musim kemarau warga harus mencari air ke tempat-tempat yang jauh (5-10 km). Itu pun air yang diperoleh hanya ½ jerigen saja. Bahkan dalam kondisi terpaksa saat sulit air, masyarakat menggunakan air yang sesungguhnya tidak layak untuk konsumsi.
Saat ini masyarakat tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan air bersih, bahkan saat kemarau sekalipun karena air bersih yang keluar dari sumur bor yang dibangun dengan kedalaman sampai dengan 70 meter tersebut cukup lancar. Malah ada 40 KK atau 40 rumah yang tinggal menunggu di rumah saja untuk mendapatkan air bersih karena telah menyalurkan pipa air ke rumahnya — Heri Susanto ST, FK Negeri Besar, Way Kanan
Desa Lamadale merupakan salah satu desa di Kecamatan Lebatukan Kab. Lembata. Letaknya yang di dataran tinggi sehingga Lamadale memiliki banyak sumber mata air yang senantiasa tidak berhenti keluar dari balik celah bebatuan sekalipun di musim kemarau.
Sayangnya mata air tersebut letaknya di bawah permukiman sehingga untuk menikmati air masyarakat harus menuruni tebing/jalan yang agak curam hingga mendekati sungai sebagai muara dari mata air.
Melalui PNPM Mandiri Perdesaan dan swadaya dari masyarakat kesulitan masyarakat Lamadale sedikit tereduksi dengan dibangunnya beberapa bak penampung mata air, akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama dikarenakan debit air yang keluar dari beberapa titik mata air tersebut mengalami penurunan bahkan ada yang tidak keluar sama sekali.
Pada 2009 Kepala Desa Lamadale menerima undangan Sosialisasi P2DTK tingkat kabupaten dan melihat peluang akan terjawab kesulitan warganya dalam mengakses air bersih melalui Program P2DTK. Sepulang dari sosialisasi beliau menyusun surat permohonan yang berisi usulan kegiatan peningkatan jaringan air bersih kepada Satker P2DTK Kabupaten/Bappeda Kab. Lembata yang kemudian dibawa pada proses Kajian Teknis P2DTK Siklus-3 Tahun 2009 hingga pada akhirnya usulan Pembangunan Jaringan Air Bersih di Desa Lamadale pun disetujui oleh Forum Musyawarah Kabupaten Pendanaan untuk didanai oleh Program P2DTK.
Mengetahui P2DTK akan mendanai jaringan pihak desa segera berkoordinasi dengan UPKD Infrastruktur hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan oleh masyarakat apalagi pihak Plan International Unit Lembata juga terlibat pada kegiatan perluasan jaringan perpipaan sehingga diharapkan lebih banyak masyarakat yang terlayani dan tidak perlu lagi berjalan jauh dan menuruni jalan curam untuk menikmati air bersih.
Pelaksanaan berawal pada pembuatan 2 unit bak kaptering dan 1 bak pompa (terdapat 2 pompa). Jenis pompa yang dipakai adalah jenis Pompa Ramp dimana dengan menggunakan tenaga dorongan air dari bak kaptering menuju bak pompa untuk membuka dan menutup klep pompa.
Gerakan membuka dan menutup klep ini menghasilkan tenaga untuk memompa air ke atas menuju bak penampung yang direncanakan. Secara bersamaan pula dibangun bak penampung di lokasi terdekat dengan rumah warga, hal ini bertujuan agar pihak Plan International Unit Lembata dapat menyambung pipa tersier ke rumah warga.
Kendala yang dihadapi pada proses pengerjaan adalah warga harus memanggul satu per satu zak semen dan karung pasir dikarenakan material harus diturunkan disekitar permukiman sementara lokasi kegiatan berada di bawah permukiman sehingga masyarakat bersama-sama dengan Kepala Desa bahu membahu memanggul material.
Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kegiatan ini selama 5 bulan (September 2009 – Pebruari 2010).
Keberhasilan P2DTK mengangkat air ke permukiman rupanya didengar oleh Program Pamsimas dan desa-desa penerima bantuan Pamsimas Kab. Lembata sehingga pihak konsultan dan utusan desa-desa melakukan studi banding ke Desa Lamadale untuk mempelajari kemungkinan desa mereka bisa menerapkan teknologi yang terbilang baru di Kab. Lembata ini ke tempat mereka karena adanya kemiripan kontur dengan Desa Lamadale.
Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) merupakan salah satu dari 6 Kabupaten P2DTK di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai daerah yang masih tertinggal dengan berbagai kompleksitas permasalahannya, TTS menjadi akrab dengan kemiskinan akibat dari minimnya akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan maupun infrastruktur, yang telah membuat masyarakatnya menjadi “Tidak Berdaya” menghadapi kenyataan hidupnya.
Pemerintah Derah telah berupaya maksimal demi mensejahtrakan masyarakatnya, akan tetapi kemiskinan tetaplah seperti gundukan batu besar, berdiri angkuh yang senantiasa menjadi bayang-bayang ketidakberdayaan masyarakat.
Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemeterian Pembangunan Daerah Tertinggal melalui Program Percepatan Pembangunan Daerah Teringgal (P2DTK) telah menunjukkan komitmennya demi mempercepat kemajuan daerah-daerah yang masih tertinggal. Dengan harapan agar semua pihak harus bersama-sama membangun kemitraan, agar program ini dapat menuai hasil maksimal.Sebagai program Stimulan dengan pola pemberdayaan masyarakat, P2DTK Kabupaten TTS telah mengambil hati masyarakat oleh karena proses dan tahapan yang senantiasa melibatkan masyarakat secara aktif.
Hal ini dapat dipahami, oleh karena masyarakat yang merasa kondisi hidup yang serba sulit seprti mendapat secercah harapan dengan hadirnya Program P2DTK. Masyarakat berkeyakinan bahwa dengan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang telah dialokasikan kebutuhan masyarakat yang diusulkan pasti akan diakomodasi.
Pelaksanaan program P2DTK di Kabupaten TTS semua pihak baik Tim Koordinasi Kabupaten dan Kecamatan, Konsultan Manajemen dan FK maupun TPK Kabupaten, UPKD daqn UPK Kecamatan membangun kemitraan dan berkomitmen demi kesuksesan Program ini. Kemitraan tersebut dibangun atas dasar saling berkoordinasi serta tidak saling mengintervensi kewenangan masing-masing lembaga.
Oleh karena merasa sangat terbantu dengan hasil program P2DTK, maka tidaklah berlebihan bila masyarakat mengungkapkan kegembiraan mereka dengan berbagai pemangku kepentingan P2DTK yang berkunjung ke lokasi kegiatan. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Aminadab Natti (seorang Tokoh Masyarakat) pada saat Bapak Heru Darmawan berkunjung ke Kecamatan Kot’Olin:”Sekarang hidup kami su leih mudah, harga komoditi sudah lebih baik oleh karena jalan sudah baik sehingga kendaraan bisa langsung datng ke kampung kami untuk ambil hasil komoditi”.
Pernyataan bapak Natti tersebut i atas memang patut dipahami.Betapa tidk, daerahnya yang selama ini terisolir oleh karena keterbatasan sarana bik pendidikan, kesehatan maupun infrastruktur, kini sedikit demi sedikit telah terpenuhi. Kekurangan sarana pendidikan sehinggasiswa harus bersekolah di kantor Desa darurat , kini telah dibangun Gedung Sekolah beserta Meublernya. Kegiatan Posyandu yang selama ini dilaksanakan di rumah-rumah penduduk, kini telah dibangun rumah Posyandu beserta bantuan insentif Kader Posyandu. Keterbatasan sarana infrastruktur, kini P2DTK telah membangun jalan yang menghubungkan Desa-desa kepada pusat-pusat potensi pertumbuhan Ekonomi, seperti tempat pengumpulan Batu Warna Komoditi promadona masyarakat saat ini.
Dampak kehadiran P2DTK di Kabupaten TTS memang sangat terasa. Di bidang Pendidikan, telah terjadi peningkatan prosestasi lulusan dan meningkatnya jumlah tamatan Sekolhah Dasar masuk SMP. Di bidang Kesehatan, telah terjadi penurunan angka kematian ibu dan anak. Dibidang infrastruktur telah terjadi peningkatan pendapatn masyarakat oleh karena berbagai sarana yang telah tersedia. Dibawah ini adalah beberapa contoh Sub-Project yang telah dibangun di Kabupaten TTS.
By Tim Spada TTS-NTT
Desa Waitina, kecamatan Mongoli timur merupakan daerah pantai dengan perkebunan kelapa yang sunyi. Desa ini berada di sebuah pulau kecil di kabupaten kepulauan Sula- Maluku Utara. Untuk mencapai Waitina dari Sanana, ibu kota kabupaten Kepulauan Sula , memerlukan waktu kurang lebih 2 jam dengan perahu kayu.
Desa yang memilik banyak makam keramat, dan rumah adat ini menyimpan cerita kegigihan para perempuan untuk mencapai cita-cita pendidikan yang lebih merata dan terjangkau oleh semua warga desa.
Sebuah Sekolah Agama Islam Madrasah Tsanawiyah ( MTs) bernama “Suhada” yang semula hanya memiliki satu ruang belajar dan menampung lebih dari 50 siswa ,yang kebanyakan siswa perempuan, menginspirasi kelompok perempuan untuk membuat sekolah itu bisa memiliki lebih dari satu ruang kelas.
Kehadiran P2DTK terutama melalui musyawarah perempuan, menjadi jalan awal mewujudkan mimpi kaum perempuan. Hasil musyawarah perempuan mengusulkan penambahan ruang kelas bagi Mts SUHADA . Usulan inipun mendapat dukungan dari banyak pihak dan berhasil mendapat pendanaan dari P2DTK.
Hanya dengan anggaran sekitar 169 juta, kegigihan perempuan Waitina yang didukung seluruh warga mampu mewujudkan 3 (tiga ) ruang kelas tambahan dengan kualitas yang cukup baik.
Anggaran yang normalnya hanya mampu membangun 1(satu) ruang kelas, bisa dikembangkan menjadi 3 ruang kelas dengan menggalang swadaya dan kegotong royongan. Anak-anak dan kaum perempuan turut serta berperan dalam proses pembangunan, misalnya membantu mengangkut t batu dari sungai, mengangkut pasir dan menyiapkan konsumi pekerja.
Ibu Kepala sekolah , Drs Jaria Umasangaji, merasa sangat terbantu dan bersyukur mendapat program P2DTK “P2DTk telah membantu memperluas kesempatan belajar anak-anak Mongoli Timur. Tahun ini, terdapat peningkatan jumlah yang siswa mendaftar di sekolah ini. Dan, Sekolah ini juga mendapat kepercayaan pemerintah untuk mendapat 2 tambahan ruang kelas lagi pada tahun 2011 . Ini sangat kami syukuri dan kami sangat berterimakih pada P2DTK “ ungkap ibu Kepala sekolah yang ramah ini.
(Ds Waitina-Kec Mongoli Timur – Kep.Sula-Maluku Utara)
Apr 11
19
Report Aplikasi MIS (Pdf) :
1. Form 1 Pelaku (DOWNLOAD)
2. Form 2 Pelatihan DOK (DOWNLOAD)
3. SPB & SPC (DOWNLOAD)
4. Kegiatan_Implementasi (bagian 1) (DOWNLOAD)
5. Kegiatan_Implementasi (bagian 2) (DOWNLOAD)
6. Realisasi (DOWNLOAD)
7. Form 5 Forum Kab dan Kec (DOWNLOAD)
8. Form 8 HCU (DOWNLOAD)
9. Form 6 MPHM (DOWNLOAD)